Banjir, banjir dan banjir, begitulah yang terjadi di awal tahun 2009 ini. Seluruh pelosok negeri merasakan musibah banjir ini, hingga kita semua menganggapnya sebagai siklus tahunan, siklus yang seharusnya tidak terjadi di penjuru negeri ini, dan kita tahu semua itu bisa kita cegah.
Kerusakan lingkungan, yang dibuat sendiri oleh saudara saudara kita di pelosok negeri tercinta ini, penebangan hutan, pembangunan gedung gedung tinggi tanpa menyisakan area resapan dengan beton hingga kedalaman 30 meter, membuang sampah sembarangan, itulah sebab primer yang tidak pernah kita gubris, kita tahu tapi kita diam.
Universitas Muhammadiyah Solo, tempat aku menuntut ilmu, dalam sejarah, baru tahun ini mengalami musibah banjir. Apa kata dunia?
Bagaimana menyikapinya? hanya orang yang punya hati nurani yang bisa memulainya, Mari kita awali dari diri kita sendiri, kemudian ajak keluarga kita untuk bisa mencintai lingkungan.
Jika alam ini tidak nyaman untuk ditinggali, itu semata dan pasti karena kita tidak peduli dengan lingkungan, apa susahnya kita membuang sampah pada tempatnya, menanam beberapa pohon di sekitar rumah kita, menyisakan 10% areal rumah kita untuk resapan, tidak membakar sampah yang mengakibatkan polusi. Gunakan peralatan yang ramah lingkungan, bisa didaur ulang dan tidak menyebabkan polusi.
Mari kita pelajari, jika dalam satu helai daun bisa menyimpan 3 gram air, berapa liter air yang tersimpan di pohon bila kita punya 1 pohon mangga ukuran sedang? bila setiap rumah mau menanam minimal 2 pohon ukuran sedang, bukan tidak mungkin Jakarta akan terasa sejuk 3 tahun lagi.
Hutan, kekayaan alam yang seharusnya menjadi kebanggaan kita di Tanah air tercinta, habis, dibakar, di tebang, dijarah kayunya tanpa reboisasi, di sulap menjadi ladang sawit, apakah pemerintah ini akan tetap diam? himbauan pada para Pengusaha perkebunan, mengapa engkau semua hanya memikirkan materi untuk pribadimu? pikirkan anak cucu kita, bangsa kita, tanah kita berpijak..
mungkin hukuman 3 – 5 tahun itu terlalu ringan dibanding keuntungan materi yang didapat dari penjarahan dan perusakan hutan itu, mungkin harusnya hukuman seumur hidup bagi perusak lingkungan, karena yang merasakan akibat kerusakan itu bisa 7 turunan.
Belum lagi Polusi dari kendaran yang membakar paru paru kita setiap harinya, Metromini dengan asap hitamnya, Bajaj dengan oli terbakarnya, Bus besar yang sudah tidak layak jalan, mungkin sudah saatnya membatasi masa pakai kendaraan, agar polusi yang dihasilkan bisa minimal. Boleh kita mengklaim sudah memenuhi standart Euro2, tapi pada prakteknya? tetap saja membuat nafas sesak.
Sekarang saja kita sudah sangat sulit menikmati hawa sejuk di jakarta ini, bagaimana cucu kita nanti? mungkin untuk sekedar jalan jalan di akhir pekan saja, cucu kita kelak sudah harus mengenakan masker, hehehe…
Mari, dimulai dari diri kita masing masing, Menanam Pohon, buang sampah pada tempatnya, tidak merokok, buat area resapan. Semoga kita bisa menikmati jakarta yang Hijau di kemudian hari.. mimpi kali ye.. hehehe…